EKSISTENSI MENTAL (Dari Ontology ke Epistimologi)
EKSISTENSI MENTAL (Dari Ontology ke Epistimologi)
Sejauh ini belum ada klarifikasi memuaskan tentang relasi
antara penjelasan wujud dalam kaitannya untuk menjelaskan eksistensi Tuhan. Di
masa Suhrawardi, pembahasan ini menjadi sangat elitis dan terkesan hanya
dimiliki atau dipunyai oleh kaum atau kelompok terpelajar saja[2].
Padahal Persoalan eksistensi atau keberadaan Tuhan adalah realitas tunggal yang
melampaui dan mengatasi semua persoalan yang ada di dalam kehidupan manusia.
Sehingga dalam hal ini sangat wajar jika pada akhirnya yang terjadi adalah
muncul persoalan ketuhanan sebab tiap bagian menyatakan sebagai
entitas sendiri dan mengakui otoritasnya sebagai yang paling benar. Secara
pribadi saya ingin membuat argumentasi ini agar tidak ada rantai yang terputus
(Missing Link). Karenya penjelasan ontologis dan kesadaran pada aspek
ontologism ini menjadi sangat penting, dan sesudah itu tetap ada baiknya dan
menjelaskan epistimologis.
Tinjauan Sejarah
Perjalanan filsafat Islam atau filsafat memasuki dunia Islam
adalah sebuah realitas yang tak terelakan saat filsafat datang yang dibawa oleh
proses kebudayaan (sebuat saja helenisme). Saya kira pada masa inilah
persentuhan budaya itu mulai terjadi. Sebagai suatu cara berpikir, tentu bukan
sesuatu yang salah jika keberadaannya menarik untuk dipakai
atau digunakan. Suhrawardi yang Plato atau Hikmah Mutaaliya yang
Plotinus. Filsafat pada awalnya sangat concern dengan tema-tema yang
sangat ontologism, seiring perkembangannya, filsafat menjauh dari tema
ontologis.
Wajibul Wujud oleh barat disebut dengan being. Sehingga
pembahasan tema ini sangat ontology. Kenapa ada wujud..? Pertanyaan ini
sesungguhnya berangkat dari kenyataan pada pertanyaan akan ada yang
sesungguhnya. Realitas. Sama pertanyaan para filosof pertama yang bertanya
siapakah yang hakikat. Siapakah ada yang pertama. Sejak saat inilah pertanyaan
tentang ada ontologis ini sangat penting.
Seluruh argumentasi ini berujung pada pembuktian akan
eksistensi Tuhan. Wujud zihni adalah mata rantai yang terputus itu dan luput
dalam kajian filsafat empirisisme sebab ketiadaan dan pengingkaran paa realitas
mental.
Pertama dalam makalah ini saya ingin memberikan definisi
umum tentang eksistensi mental. Eksistensi Mental adalah suatu hal yang universal, apakah konsep atau penghakiman,
yang dibuat dalam pikiran, dan, seperti yang kita tahu, adalah eksistensi
abstrak, namun, karena tidak memiliki eksistensi di dunia luar, melainkan ada
di tempat lain, yaitu, di pikiran.
Masalah eksistensi mental yang memiliki dua aspek. Di
satu sisi, ia memiliki dimensi ontologis, karena merupakan
semacam eksistensi yang telah melemah untuk sebagian besar dan kehilangan fitur
dan efek dari eksistensi eksternal. Namun, pada gilirannya sendiri - dan tidak
bertentangan dengan eksistensi eksternal - itu adalah eksistensi eksternal (sejak
manusia dan jiwa dan pikiran memiliki seperti sebuah eksistensi), namun, ketika
kontras dengan ada eksternal objektif, hal itu disebut jiwa eksistensi.
Di sisi lain, masalah ini
merupakan salah satu epistemologis dan berhubungan
dengan pembentukan pengetahuan dan kesadaran manusia dan hubungannya dengan
dunia luar.
Masalah eksistensi mental
dapat dilihat sebagai penghubung antara ontologi dan epistemologi, memperjelas
hubungan antara manusia dan dunia. Isu korespondensi antara dunia luar dan
pikiran ini diajukan dan dianalisis dalam bagian ini. Kebanyakan filsuf Muslim
percaya bahwa apa yang terbentuk dalam pikiran adalah intisari atau hakekat
daripada gambar, sehingga jika suatu hakekat mengacu pada ada eksternal dan,
pada kenyataannya, termasuk kategori pengetahuan, itu akan menjadi sama dengan
hakekat dari obyek eksternal yang telah ditransfer ke pikiran tanpa adanya
tujuan dan efek eksternal
Mulla Sadra membuktikan
bahwa perseptor, obyek mental yang dirasakan, dan pengetahuan, itu sendiri,
adalah sama dan satu. Saat ia, dirinya sendiri, mengatakan, 'intelek, subjek, dan dipahami' 'pengetahuan, mengetahui, dan langsung
dikenal (subjek)', atau dalam kesatuan dengan satu sama lain. Masalah ini
dikenal sebagai 'kesatuan intelek, cerdas, dan dipahami'.
Ibn-Sina dan sekelompok
filsuf Peripatetik tidak setuju dengan teori ini, karena, menurut mereka, tidak
ada metode rasional dan demonstratif untuk membuktikan hal itu. Akhirnya, Mulla
Sadra menemukannya mulai mempelajarinya, dan dalam perjalanan dari wahyu yang
ia terima selama periode nya praktek asketis di pinggiran kota Qum (dalam 1.037
AH, ketika ia berusia 58 tahun), ia menemukan argumen terkait dan, mengikuti
pendekatan filosofis serta membuktikan teorinya
Dalam rangka untuk memahami
argumen Mulla Sadra dalam hal ini, yang pertama harus memahami arti dari
'kesatuan' (Ittihad). Jelas, persatuan dalam arti memiliki dua Existent yang
berbeda, objek, konsep, atau quiddities menjadi satu tidak mungkin dan tidak
masuk akal. Jelas, dua hal yang terpisah atau dua konsep bertentangan selalu
dua hal dan tidak akan pernah menjadi satu. Ini adalah keberatan yang sama dari
Ibn-Sina dan lain-lain menguat terhadap masalah ini, karena mereka menganggap
bahwa persatuan antara cerdas dan dimengerti adalah dari jenis ini
Dalam rangka untuk memahami argumen Mulla Sadra dalam hal
ini, yang pertama harus dipahami adalah kesatuan (Ittihad). Jelas, persatuan dalam arti memiliki
dua Existent yang berbeda, objek, konsep, atau quiddities menjadi satu tidak
mungkin dan tidak masuk akal. Jelas, dua hal yang terpisah atau dua konsep
bertentangan selalu dua hal dan tidak akan pernah menjadi satu. Ini adalah
keberatan yang sama dari Ibn-Sina dan lain-lain menguat terhadap masalah ini,
karena mereka menganggap bahwa persatuan antara cerdas dan dimengerti adalah
dari jenis ini
Mulla Sadra percaya bahwa
persepsi rasa memiliki tahapan yang berbeda: Tahap Pertama:
Tahap ini terdiri dari refleksi dari fakta-fakta eksternal oleh panca indera.
Dia conceives tahap ini sebagai efek dan refleksi dari sebuah gambar pada
fotografi negatif, dan mempertahankan bahwa itu terlalu sempurna dan rendah
untuk disebut persepsi dan menghasilkan pengetahuan bagi manusia. Tahap ini
terdiri dari serangkaian kode-seperti sinyal yang membuat gambar samar di otak
(dan dalam kata-kata filsuf awal ', dalam arti umum).
Tahap ini hanya setengah melalui persepsi, dan empiris,
yang menyamakan refleksi pada indera dengan persepsi, sudah cukup untuk
setengah dari apa yang sebenarnya terjadi, dan, dengan demikian, mereka tidak
dapat menyangkal proses lengkap persepsi.
Tahap Kedua: Pada tahap ini, giliran jiwa manusia untuk
memperoleh pengetahuan dari gambar-gambar dan kode. Di sini, dua elemen penting
yang diperlukan untuk persepsi akal: 'perhatian' dan 'kesadaran'. Perhatian
adalah fenomena psikologis, dan tidak ada hubungannya dengan tubuh. Kecuali
perhatian jiwa benar-benar terfokus pada fungsi panca indera, tidak ada sinyal
yang dikirim oleh mereka dapat dianggap sebagai persepsi.
Eksisensi eksternal tidak bisa masuk pikiran tanpa menurun ke
tingkat eksistensi mental
Beberapa filsuf dan teolog Muslim berusaha untuk
menanggapi keberatan ini melalui beralih ke justifikasi palsu, dan beberapa
orang lain, karena tidak tahu jawabannya, benar-benar membantah isu keberadaan
mental. Namun, untuk memecahkan masalah, Mulla Sadra dikemukakan salah satu
karya filsafatnya yang juga dapat digunakan dalam memecahkan kerumitan lainnya
filosofis terkait. Oleh karena itu, masalah eksistensi mental dapat dianggap
sebagai salah satu inovasi sekolah Mulla Sadra pemikiran.
Saya ingin menggunakan penjelasan Mulla Sadra misalnya saat
bicara antara mana yang lebih esensial atau mana yang realistas sesungguhnya.
Mulla Shadra dalam pandangan Hikmah Al Mutaaliyah melihat bahwa realitas tidak
saja dibatasi pada hal yang empiris atau yang rasional. Mulla Shadra melihat
bahwa yang riil adalah bukan semata yang ada dalam elam ekternal yang bisa
diukur sebagai pendekatan rasionalis dan empirisis. Bagi Mulla Shadra rang riil
itu juga terdapat dalam wujud mental atau menta eksisten. Berikutnya
dalam pembahasannya, Mulla Shadra juga banyak menyajikan gagasan tentang
eksistensi mental.
Gagasan mental eksisten ini pula yang mendasari epistimologi
Mulla Shadra tentang bagaimana menjelaskan eksistensi tuhan dalam
keontologiannya. Tiga bangunan atau pilar dalam konsep ini misalnya dikatakan:
tentang persepsi, dan ittihadul aqil wa ma’qul.
Kenyataan atau preposisi lain yang mempertegas bahwa sang
Wujud menjadi penjelas tertinggi akan adanya eksistensi Tuhan adalah saat
eksistensi dan keberadaan manusia adalah keadaan yang terbatas semmentara Tuhan
adalah keberadaan yang tanpa bata. Keberadaan manusia adalah keberadaan yang
lahir atau merupakan iktibar dari kesistensi yang wajib atau Tuhan itu
sendiri. Mulla Shadra menggunakan Burhan Assiddqiin sebagai upaya
untuk menjelaskan eksistensi itu dengan pendekatan yang sangat elegan.
Manusia dan segala makhluk
adalah akibat dari Tuhan. Akibat dalam terminologi Sadra adalah wujud faqir.
Maksud wujud faqir disini bahwa akibat secara eksistensi adalah faqir. tak ada
wujud sama sekali di dalam dirinya sehingga akibat secara totalitas bergantung
pada Tuhan. tak ada satu 'saat' pun dimana akibat berada pada posisi independen
secara eksistensi. berdasarkan hal ini, maka setiap 'saat' segala entitas
makhluk meminta wujud kepada Tuhan secara terus menerus. karena itu setiap
'saat' kita meminta eksistensi dan karena itu pula dari sisi Tuhan setiap
'saat' senantiasa memberikan eksistensi. Jadi, setiap saat eksistensi kita baru
dan baru, dan karena setiap saat eksistensi kita baru dan baru maka pada
hakekatnya segala akibat senantiasa dalam keadaan penciptaan yang baru. dalam
irfan fenomena seperti ini disebut dengan 'tajaddud amtsal'. Hal ini senada
dengan ayat Qur'an dalam surah arrahman; ayat 29 (apa2 yang ada dilangit dan
dibumi senantiasa meminta kepada Allah swt) kemudian ayat ini dilanjutkan
dengan (setiap 'saat' Dia mencipta).
Ontologi dan Epistimologi
Problem besar kefilsafatan adalah saat filsafat sebagai alat
atau “tool” untuk memahami eksistensi Tuhan tak mampu memberikan jawaban
memuaskan. Klaim kebenaran mencuat dengan ukuran yang dikodifikasikan oleh
sekelompok ilmuwan yang menyebut dirinya kaum scientis dan mendasarkan pemikirannya
pada bukti empiris sebagai ukurannya.
Padahal realitas keilmuan yang empirisis ini terbukti gagal
dan kini mulai ditinggalkan sebab sejumlah fenomena memperlihatkan kegagalan
itu. Capra misalnya banyak bicara soal ini. Muthada Mutahari juga sangat detail
menggambarkan kehancuran atau borok-borok empirissme[3].
Dia malah menambahkan konsep ilmu pengetahuan melalui tanda.
Mulla Shadra dengan Hikmah Al Mutaaliyah atau
Filsafat Transendent berusaha menjawab kebuntuan dan kemandegan Ilmu
pengetahuan itu. Sebagai filosof terutama filosof muslim melihat bahwa Filsafat
Mulla Shadra mampu menjawab mazhab filsafat sebelumnya baik mahzab Masyaiyah
maupun Isyraqiyah.
Kenapa Epistimologi. Meski argument ontologi adalah sangat
fundamental atau sangat mendasar dalam peradaban dan ilmu pengetahuan modern
bukan berarti antara keduanya harus dipertentangkan. Menurut saya harus ada
pengertian bahwa ontologi dan epistimologi adalah satu kesatuan. Padahal yang
menjadi objek dari pembahasan epistimologi adalah epistimologi itu
sendiri. [4]
Upaya epistimologi adalah usaha untuk mensistematisir atau
membuat susunan yang lebih komprehensif tentang pemikiran tokoh dalam
batas-batas yang lebih dapat dipahami. Kenyataannya seringkali sebiah pemikiran
terlihat “ngacak”. Karenanya dengan Epistimologi ini akan membantu kita dalam memahami
lewat alur pemikiran yang secara umum diakui dalam ilmu pengetahuan dan kaidah
ilmu pengetahuan yang biasa dipakai.
Karenanya tidak perlu mempertentangkan keduanya. Saya ingin
membuat sebuah penggambaran dengan analogi saya sendiri tentang epistimologi
dan ontology. Jika aspek filsafat itu ada tiga yaitu Ontologi, Epistimologi dan
Aksiologi, maka saya ingin menganalogikannya sebagai suatu bangunan.
1. Ontologi
adalah sebuah bangunan
2. Epistimologi
Cara menjelaskan bagaimana bangunan itu
3. Arti
atau kegunaan Bangunan itu sendiri
Tidak perlu dipertentangkan diantara ketiganya. Saat kita
telah melihat sebuah bangunan yang berikutnya terjadi adalah seringkali atau
bias jadi penjelasan kita tentang bangunan pada orang lain tidak sama dengan
apa yang kita lihat. Yang juga seringkali terjadi adalah apa yang kita jelaskan
dari bangunan tidak sebagaimana mestinya, lalu apa yang terjadi seandainya cara
kita salah menjelaskan eksistensi Tuhan.???
Kesimpulan
Wujud
Zihni adalah gagasan fundamental dan tak pernah selesai dibahas para flosof.
Dalam dan khususnya filsafat Islam. Kajian Wujud menempati peringkat pertama
sebab pemabahasan wujud sama saja membahsa sesuatu yang sangat fundamental
dalam agama itu sendiri yaitu tentang Tuhan. Wujud dalam segala argumenatsinya
berusaha mewujudkan argumentasi bertanggungjawab tentang Tuhan.
Referensi:
Marias, Julian. History of Philosophy.
New York: Dover Publication, Inc. 1996
Yazdi, Muhammad Taqi Misbah. Philosophical Instructions:
An Introduction to Contempory Islamic Philosophy. Birmingham University
Brigham University. 1999
Muthahhari, Murtadha. Pengantar Epistimologi
Islam: Sebuah Pemetaan dan Kritik Epistimologi Islam atas Paradigma Pengetahuan
Ilmiah dan Relevansi Pandangan Dunia.
Sains dan Peradaban Dalam Islam. Seyyed Hossein
Nasr. Penerbit Pusataka. Bandung.1997.
El-Haady, Aminullah Dr. Ibnu Rusd Membela
Tuhan: Filsafat Ketuhanan Ibnu Rusyd. Lpam (lembaga pengkajian agam
dan masyarakat). 2003
Jurnal:
1. Jurnal
Mulla Shadra, Nomor 5 Volume II, No. 5, 2012
2. Jurnal
Mulla Shadra, Nomor 4, Volume I, 2012
3. Kansz
Philosophia: Jurnal For Philosophy & Mysticsme. Pengalaman Rasional
Eksistensi Tuhan: Pengantar Ontoteologi. Fariz Pari. Volume 1 Number 1 tahun
2011.
[1] Arif
Budiman, Mahasiswa S2 Filsafat Islam. ICAS-Paramadina. Disajikan dalam
matakuliah Filsafat Hikmah Al Mutaaliayah.
[3] Muthahhari,
Murtadha. Pengantar Epistimologi Islam: Sebuah Pemetaan dan Kritik
Epistimologi Islam atas Paradigma Pengetahuan Ilmiah dan Relevansi Pandangan
Dunia
[4] Kansz
Philosophia: Jurnar for Philosophi and Mistiscisme.
Agustus-November Tahun 2011. Volume 1 Nomor 1. Hal 113
Diposting oleh TIRTA PAWITRA di 17.15 Tidak ada komentar:
Komentar
Posting Komentar